Sejarah Berdirinya PWGT

PWGT (Persekutuan Wanita Gereja Toraja) lahir pada tanggal 4 Desember 1966, di Bukit Tangmentoe. Sebelum wadah PWGT terbentuk sudah ada kegiatan wanita dalam jemaat yang disebut Kaum Ibu. Kelompok Kaum Ibu di Makassar, diberi nama Kaum Ibu Elim, di Makale disebut Kaum Ibu Ora et Labora dan di kota Rantepao disebut Kaum Ibu Dorkas serta di Jemaat Bua Tallulolo Kesu’, disebut Kaum Ibu Ester. Mereka mengambil nama-nama dari Alkitab untuk memberi makna kaum ibu saat itu.
Kegiatan kaum ibu dalam bidang pelayanan sosial, yakni melayani, mengunjungi orang-orang sakit. Selain itu kegiatan kaum ibu menyiapkan makanan, minuman pada acara-acara rapat Majelis Gereja. Kegiatan dalam bidang kerohanian, membaca Alkitab dan mendalami firman Allah serta prakteknya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam pembinaan keluarga.
Kegiatan jahit menjahit juga dilaksanakan oleh ibu-ibu, dan hasil jahitan mereka dimanfaatkan dalam pelayanan diakonia. Kaum wanita dibatasi ruang geraknya, mereka ada di barisan belakang dan belum diberi kesempatan berbicara dalam jemaat. Prof. DR. Frank Cooley memberi julukan pada Gereja Toraja saat itu “Gereja Toraja adalah Gereja Laki-laki”, sebab sebagian besar potensi wanita belum dimanfaatkan.
Dasar Alkitab yang dipegangi oleh GZB, Badan Zending dari Nederland yang memberitakan Injil di Tana Toraja, mengutip nas Alkitab I Kor. 14:34-35 “perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam jemaat, mereka tidak diperbolehkan berbicara jika mereka ingin menanyakan sesuatu, baiklah mereka menanyakan kepada suaminya di rumah. Tidak sopan bagi perempuan untuk berbicata dalam jemaat”.
Tokoh dan aktivis perempuan dalam Gereja Toraja sudah menabur banyak, bagaimana membentuk satu wadah guna mewujudkan satu persekutuan bagi wanita dalam Gereja Toraja. Adapun pelopor pendiri PWGT adalah Ibu A.Lebang, Ibu G.S.Kobong (almh.), Ibu A.S. Tambing, Ibu Hana Lande’ (nene’ Widi), Ibu M.Pakan (almh.), Ibu Pali’, Ibu Rumpa, Ibu Linting, Ibu Sula, Ibu Tikupasang dari Makale, Ibu Ratu dari Palopo, Ibu Pasapan dari Kesu’, Ibu Mailisa, Ibu Tanga (almh.), Ibu M.Sarungallo dari Makassar dan masih banyak nama Ibu-ibu yang tidak sempat disebut di sini.
Melalui pertemuan pertama wanita Gereja Toraja tanggal 29 Nopember – 5 Desember 1966 di Tangmentoe, diputuskanlah bahwa wadah PWGT lahir tanggal 4 Desember 1966 dengan tujuan: membina wanita Gereja Toraja menuju kedewasaan iman, sehingga mampu menjadi teladan mewujudkan tugas panggilannya di tengah-tengah masyarakat (pedoman kerja PWGT hal.6).
Syukur kepada Tuhan 50 tahun usia PWGT se- Gereja Toraja sudah mengukir banyak kesan dan karya lewat pembinaan dan keluarga dalam jemaat, dalam masyarakat, bahkan di antara sesama kaum wanita. Tuhan yang empunya pekerjaan ini akan memberkati dan menguatkan kita dalam pelayanan.
Agenda Kegiatan

Pengurus Pusat PWGT

Dicemusa Kondorura, MH. Ketua

Sisilia Tarukallo Rissing, S.Pd Sekretaris